Event Review; Teater EPIK vol. 5 : TARAKSA

Behind The Scene

Sebuah ‘pengorbanan yang bermula dari kasih sayang’. Premis utama tersebut coba diterjemahkan ke dalam bentuk ‘perjalanan langit’ yang dilalui Taraksa untuk menjemput kembali Chiandra, wanita yang dicintainya. Dengan menghadirkan ruang pentas yang minim dialog, penuturan cerita melalui gerak tubuh, suara musik, juga gerik artistik, beberapa logika panggung kami coba dobrak pada pertunjukan Taraksa ini. Adalah kehadiran para pemain musik, lengkap dengan peralatannya, yang ditampilkan secara berani sebagai bagian dari artistik panggung yang responsif. Medium panggung pun coba diperluas tidak hanya terbatas pada aturan porsenium, posisi duduk penonton ditata sedemikian rupa sehingga memberikan ceruk lebih bagi keseluruhan komposisi artistik, yang bertujuan demi membangun wahana bagi para penonton untuk turut ikut menjadi bagian dari aksi pertunjukan.

“Ini merupakan sesuatu yang beda. Bahkan untuk teater pun, ini teater yang beda.” -Marikar Arsy (Produser)

Selain itu, berbekal dari satu naskah utama, tim produksi pun merambah eksplorasi artistik di luar panggung. Kehadiran cerita bersambung sebagai program mediasi acara, penerbitan concept art book, dan penawaran merchandise Taraksa di hari-H menjadikan pengemasan acara yang utuh secara holistik.

“Semuanya berangkat dari sebuah premi sederhana.. Sangat Sederhana.” -Sutansyah Marahakim (Sutradara)

Menginjak pementasan yang kelima ini, Teater EPIK perlahan mulai mencapai tujuan dari berdirinya ; memberikan suatu wadah untuk bertemu teman-teman baru yang memiliki itikad bersama membangun seni pertunjukan di Bandung . Keterlibatan para mahasiswa lintas universitas dari ITB, UNPAR, ITENAS, UNISBA, UNPAD, UPI, IT Telkom, juga para siswa lintas sekolah dari SMAN 1, SMAN 15, dan SMAN 19, benar adanya membuat Taraksa sebagai ajang kolaborasi para penggiat seni pertunjukan di kalangan siswa dan mahasiswa di Bandung. Pada tanggal 26 – 27 Februari nanti, Dago Tea House, Bandung akan disemarakkan satu kali lagi, sebagaimana nama yang menyematnya, sebuah Taman Budaya.

Poster-Taraksa

“Kami mencoba menyampaikan dialog tersebut melalui musik.” -Fiola Rondonuwu (Pengarah Musik)

“Metafor yang dinikmati, bukan yang dimengerti” -Misha Azizia (Pengarah Artistik)

“Ketika naskah tidak hanya dimainkan diatas panggung, tapi dijadikan awal untuk modal produksi” -Tri Adi Pasha (Produser Eksekutif)

Source : http://taraksa.majalahepik.com

Author : Muhammad Naufal Aflah / 19010115

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s